Ambil Kembali Kisah Kisah Mu

Sebuah cerita kehidupan

Bahwa kehidupan ini akan terus berlanjut sebagaimana umurnya terus bertambah, masa lalunya telah terlewati, hari-hari yang berlalu tak pernah kembali. Kehidupan ini membawanya berpikir, mendewasakan akal sebagaimana waktu membentuk dirinya sekarang. Sebagaimana tubuhnya yang sedari kecil bertambah, bertambah, dan hadirlah dia menjadi sosok yang bertubuh kekar, gagah, atau cantik, meninggi. Continue reading “Ambil Kembali Kisah Kisah Mu”

Iklan

Kamu Ekstreem?

Suatu waktu saya pernah mengajak adik tingkat (tingkat 1/ semester2) untuk makan bersama, waktu itu kami memilih bakso di samping kampus. Disaat proses makan itu tiba tiba sang pemilik warung menyalakan music daripada music music jahiliyah.

“Yah ada musiknya.” Kata ku sambil agak kecewa.

Tiba tiba adik tingkat ini bertanya agak serius, “Mas, kamu nggak extreme-kan mas?”

Ku tatap matanya dengan tatapan “what? Serius kamu nanya kek gitu ke aku?” Continue reading “Kamu Ekstreem?”

Hidayah di Lereng Merbabu

Pengalaman ini terjadi sebelum memasuki bulan puasa tahun ini. Sebuah kegiatan yang aku sendiri tak menyangka dapat pengalaman seperti ini, dan teman seperjalanan ku pun tak menyangkanya juga. Sebuah pengalaman bagaimana Allah memberikan hidayah kepada hambaNya, dan spesialnya kita tidak harus menjadi lakon dalam hidayah itu. Aku susah sekali mengambil kata demi kata.

Pengalaman itu mahal, jika ingin murah, maka ambilah pengalaman kepada yang sudah mengalaminya.

Jika kita berbicara tentang hidayah, maka kita akan teringat pada sebuah ayat yang sering kit abaca, yaitu Al Fatihah : 5, yang artinya “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Lalu pertanyaannya adalah “Apakah hidaya itu?” jika kita mau melihat rekaman Kajian dari The Strangers Al Ghuroba oleh Ustadz Yahya Badrussalam yang berjudul Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus, maka kita akan dapat sebuah garis besar bahwa Hidayah itu banyak. Dari mulai hidayah islam, hidayah iman, hidayah ke pemahaman Salaf, hidayah sholat, dan lain lain. Maka tidak salah bahwa Allah mensyariatkan untuk membaca Al-Fatihah tiap kali sholat dalam tiap rakaat. Allahu Akbar.

Saya mempunyai komunitas / kelompok diluar kampus. Pada hari kamis bertepatan dengan tanggal merah kami(mahasiswa dari polines, undip, unnes, uin, upgris, dan juga IAIN) melakukan semacam bakti sosial yang bertemakan Aku Cinta Masjid, program dari Daarut Tauhiid Peduli (serempak di +25 kota lainnya). Saya pribadi sengaja mengikuti acara ini agar sedikit refreshing dari TA yang sedang aku kejar agar tahun ini lulus.

Baksos ini tepatnya di salah satu ujung terdingin dari kota Salatiga, tidak cukup jauh dari Kota Semarang, hanya satu setengah jam perjalanan jika menggunakan motor. Kami mengadakan baksos ini disini karena yang pertama adalah permintaan dari tokoh masyarakat disitu. Beliau merasa bahwa kampong/desanya harus dibantu dari luar. Karena jika kalian tau temen temen, desa itu memiliki masalah yang tidak boleh disepelekan. Yaitu, kristenisasi, dan yang kedua adalah adanya pemahaman syiah. Allahu akbar.

Kampung ini terkenal dengan kristenisasi, yaitu dengan cara perjodohan. Sang pria yang beragama nasrani menikahi wanita yang beragama islam, tak berselang lama, sang wanita yang sudah menjadi istrinya itu pun pindah agama. Atau sebaliknya, sang wanitanya yang nasrani, namun suaminya tak bisa mengelak dan ikut pindah agama menjadi nasrani. Allahu akbar.

Yang kedua adalah adanya pemahaman syiah yang begitu kental di desa ini. Bahkan sampai total KK yang beragama syiah pun telah terdata oleh sang tokoh masyarakat. Hanya sebagian kecil yang insya Allah tetap dalam manhaj ahlus Sunnah wal jamaah. Kita doakan mereka agar selalu diatas manhaj yang Haq.

Yang membuat saya pribadi bersyukur (yang sebelumnya kecewa) adalah takdir yang Allah begitu indah. Jadi seperti ini, pukul 4 sore kami mulai berangkat dari semarang, sebelumnya saya meminta temen temen dari IAIN Salatiga untuk mengirim lokasi perjalanan menuju kesana, karena perjalanan ini dibagi menjadi 2 armada, yang wanita pakai mobil, sedangkan laki-laki motoran. Yang pakai mobil melewati Told an kita motoran sesuai petunjuk maps yang dishare.

Satelah satu setengah jam perjalanan akhirnya saya, Farhan, ageng, berada di titik akhir maps. Saya liat kesana kemari tidak menemukan mobil yang ditumpangi sama temen temen yang lain. Setelah beberapa saat ketemulah dengan teman dari IAIN yang tadi menshare lokasi. Dan ternyata kami belum ke tempat acara baksosnya. Kita hanya mengikuti maps tempat teman IAIN kami tinggal.

“lah kok kalian malah share maps kesini, seharusnyakan di sana, biar kita langsung prepare acara?” kata ku agak sedikit kecewa. Sengaja kita berangkat sore agar sampai di tempat baksos segera prepare acara untuk kajian.

“Yahh, map deh mas. Kan ga tau kalau yang dimaksud langsung ke sana. Soalnya kita kan juga butuh buat ngangkut konsumsi dan paket” kata Lia.

“Yaudah deh, berarti sekarang kita ngapain disini? Nunggu mobil apa langsung aja ke tempat?” kata Farhan mencari solusi.

“Iya mas, tak kira itu kesini dulu mobilnya buat masukin paket dan konsumsi.” Kata intan menjalaskan.

“Kita tunggu labib aja wes.” Kata ku, labib ini ketua pelaksananya.

Kita coba kontak temen temen yang dimobil belum ada yang respon. Entah mereka ada apa apa atau sudah sampai sana, dan kita lost contact antara panita.

Ehh kalian mudeng ga sih.

Singkat cerita akhirnya kegiatan setelah isya berjalan lancar dan warga antusias dengan penjalasan sang ustadz. Alhamdulillah.

Sekitar pukul 22.30 aku baru bisa sedikit bernafas lega. Dari kejadian tadi malam, mengangkut 120 snack pakai motor oleh 6 orang dengan keadaan jalan cukup ekstrem.

Akhirnya kami diberikan cerita cerita mengenai kampong ini oleh tokoh masyarakat. Seperti pada paragraph paragraph awal tadi.

Dan yang lebih membuat aku dan Farhan (entah yang lain) merasa sangar bersyukur atas nikmah hidayah yang Allah berikan kepada kami yaitu berupa nikmat Hidayah diatas Jalan yang Haq, jalan para salaffussholeh, insya Allah. Yaitu ketika Farhan bertanya pada tokoh masyarakat,

“Maaf pak, kalau boleh tau, dulu bapak juga syiah kah?”

“Iya mas, dulu saya syiah. Selama 8 tahun.”

Allahu akbar. 8 tahun akhi wa ukhti, bukan waktu yang sebentar bagaimana tersesatnya pemahamana ini. Allahu yahdik. Semoga Allah terus bombing tokoh masyarakat ini, aamiin.

Di perjalanan pulang pun, saya dan Farhan terus mengambil hikmah dari pengalaman kemarin.

Semoga Allah selalu membimbing kita.

dan ini foto foto kemarin :

btw, tempatnya bener bener dingin.

Aku Akan Datang

“Jadi, Saya itu bersyukur akh disekolahkan oleh bapak di sekolah yang di sana itu guru-gurunya berorientasi akhirat, agama yang dikedepankan.” Kata mas Farhan di sebuah diskusi kami.

“berarti kamu harus bener-bener bersyukur akh, jikalau memang demikian.” Sambut ku.

“Iya, Alhamdulillah, semoga ini jadi kebaikan kedua orang tua saya kelak.” Lanjutnya lagi. Continue reading “Aku Akan Datang”

Your daddy and His Friend

“This is your daddy and his friend was 21 years old”

Andai foto foto itu tercetak, saya bingkai, dan saya letakan di depan ruang tamu. Suatu saat anak ku yang akan tumbuh besar akan bertanya mengenai foto foto itu. Persis seperti dahulu aku menanyakan setiap foto yang ada di rumah. Continue reading “Your daddy and His Friend”

Instagram

2 bulan berjalanan waktu di tahun 2018 ini, saya mendapati beberapa teman mencurahkan perasaan dari sebuah perbedaan setelah menghapus atau menguninstall aplikasi sosmed paling digandrungi remaja zaman now. That is Instagram. Antara lain adalah jare, mas ucup, dan Zahra. Mereka mengaku dalam sebuah tweet bahwa mereka mengalami banyak perbedaan setelah menghapus aplikasi tersebut. Mengaku bahwa hidupnya lebih free, tidak penuh drama, dan lain sebagainya. Terutama pada bagian story insta. Mungkin mereka jenuh terhadap dunia maya yang selalu update, mempertontonkan sebuah keadaan yang boleh jadi tidak semestinya, atau kasarannya tertutupi, tidak saling terbuka. Continue reading “Instagram”

Pada Suatu Masa

Bismillah.

Sudah terlalu lama blog ini terdiam, menyepi, menyendiri. Meninggalkan berbagai hiruk pikik desas desus persoalan yang terjadi. Tak mengikuti perkembangan dan menuliskan bait bait pemikiran. Karena sang empunya blog juga tak tau kapan akan menulis.

Menulis butuh waktu, butuh energi, begitu juga butuh pemikiran yang mendalam. Dan tentunya butuh kamu. Kalau diijinkan memilih, yaa aku akan menjawab ga ada waktu. Seketika ada waktu, aku ga punya energi. Energy untuk menulis, lebih tepatnya nafsu. Yaa nafsu menulis itu penting untuk amatiran kayak aku ini. Karena aku bukan pujangga, bukan penyair. Apalagi titisannya. Aku adalah saya. Continue reading “Pada Suatu Masa”