Mereka Berhak Sembuh

Cerita lama yang diangkat kembali. Isu yang telah berlalu kini tumbuh seiring sugesti. Tak henti-hentinya menjadi teror dan kecemasan. Masa depan anak bangsa adalah targetanya. Bukan hanya sebuah eksis semata, melainkan kenalaran yang dikiranya sudah diatas rata rata. Pintar memang, tapi sayangnya tak bisa menahan. Hanya otak yang menjadi wadah untuk dipertimbangkan. Namun, hati tak diterlibatkan. Tapi aku yakin, hati kecilnya masih meronta.

Mereka Berhak

Tulisan ini pernah saya buat sekitar satu setengah tahun yang lalu. Tentang LGBT. Akan saya repost dan saya atur ulang kata demi kata, agar lebih baik.

Jadi begini, hari selasa kemarin tanggal 16 februari 2016 saya melihat sebuah program di TV ONE yaitu Indonesia Lawyers Club(ILC) yang judulnya LGBT marak, apa sikap kita? Di acara itu terdapat banyak sekali panelis yang mewakili dari beberapa lembaga. Dari lembaga yang mendukung LGBT, yang kontra LGBT, ada dari KPAI(Komisi Perlindungan ANAK dan Ibu), KPI(Komisi Penyiaran Indonesia), psikiater, psikolog, dosen komunikasi, pengarang buku JakartaUnderCover, budayawan, komnas HAM, komisi DPR RI, dan tentunya juga dari Agamawan. Dan tentunya di pandu oleh bang ilyas.

Jadi saya akan sedikit bahas LGBT menurut pandang saya.

Oke, kalem. Sebelumnya, saya paham bahasan tentang LGBT ini bener-bener panjang kalau kita niat membahasanya. Dari mulai lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Jadi, kita sisihkan dari ke empat itu menjadi satu yang kita bahas. Saya bahas dari sudut pandang bahwa saya sebagai laki-laki. Berarti saya akan bahas tentang gay.

Oke langsung aja gengs. Sebelumnya ini adalah opini, kalian bisa salahkan apa-apa yang ada disini.

Kalian yang heterogen/masih normal bertanya-tanya ga sih kenapa ada orang yang bisa suka sama sesama jenis? Maka jawabannya ada dua yaitu, bawaan, dan keadaan. Yaa ada orang-orang yang terlahir membawa keadaan tidak semestinya. Mereka mempunyai kecenderungan berbeda dari yang lain. Bisa jadi mereka tidak paham dengan keadaan ini, tapi mereka juga tidak mendiskusikannya dengan keluarga (Karena sebagian orang menganggap membicarakan seks dan seksualitas di keluarga itu tabu). Bahkan bisa jadi keluarganya acuh tidak acuh dengan pendidikan tentang seks dan seksualitas. Mereka baru sadar punya kelainan ini mungkin dari orang lain, berita, info, bahkan keadaan.

Nah yang kedua karena keadaan. Ada orang yang terlahir normal, namun ketika menjalani kesehariannya bisa mengubah keadaan ini.

Kita semua sepakat kalau gay adalah sebuah penyakit. Saya ga tau penyakit jenis apa, namun jelas ini penyakit moral dan seksualitas. Kalian ga bertanya apa? Kenapa sih Allah memberi orang suatu penyakit ini? maka jawabannya adalah ujian. Ingatkah kalian bahwa Allah memberi penyakit ke pada anak adam, apabila anak adam mau bersabar atas derita yang dialamainya maka penghapus dosa atau peningkat derajat untuknya.

Sejatinya menyukai lawan jenis dan sesama jenis adalah sebuah fitrah dari lahir. Contohnya saya. Saya suka sama cewek dan saya suka cowok. Jujur, saya suka keduannya. Namun, ada batasan yang saya ambil sebagai penahan nafsu. Saya suka sama cewek/cowok yaa karena banyak hal. Dari kecantikan/kegantengannya, dari budi pekertinya. Saya suka cewek jelas karena saya adalah cowok. Saya suka cowok contohnya sama artis korea. Jelas mereka ganteng, saya ga bisa bohong. Tapi, saya punya batasan untuk menyukai mereka(cowo, cewe). Ada nafsu yang harus saya tahan atau pendam. Dan yang membuat saya dapat menahan adalah adanya keterangan di dalam Al-Quran yang melarang berlebihan mencintai mereka.

Jadi jelas, kalian tidak bisa mengatakan saya seorang gay atau homo karena saya suka cowokan?

Sama ketika saya suka sama anak-anak kecil(balita) saya suka ngelus-ngelus rambutnya, saya towel-towel pipinya, saya ajak main. Tapi kalian ga punya hak untuk mengatakan saya seorang pedhopilkan? Mana ada orang yang benci sama anak kecil. Kalau ada berarti mereka sakit.

Kita sebagai orang normal harus benar-benar bersyukur karena tidak mempunyai kelainan ini, dan juga harus merasa kasian dengan mereka-mereka yang ‘terpaksa’ mempunyai kelainan ini. Saya pernah di katain homo hanya gara-gara pasang foto profil artis korea, emang apa salah? Iyasih salah, tapi seharunya ga usah dikatain homo juga. Malahan banyak orang mengira kalau ada dua laki-laki jalan pasti dikira homo, apalagi keduanya sispack. Kita udah berburuk sangka duluan, padahal kita tidak tau realnya gimana. Ini kesalahan orang-orang yang sok keren ini. Dan saya benci mereka.

Orang bisa menjadi gay karena keadaan itu seperti ini: mereka sering melihat bagian tubuh laki-laki yang tidak seharusnya dilihat. Emang batas aurat laki-laki mana aja? Dari pusar sampai ke lutut. Nah itu daerah yang seharusnya tidak diperbolehkan untuk dilihat. Meskipun sama temen akrab. Masalahnya, betapa mudahnya sekarang ini untuk melihat hal-hal ini. iklan? Jelas apa lagi iklan yang taglinenya trust me it’s work. Saat kita renang, saat selesai main futsal buka baju, saat olahraga cuman pakaian minim dan transparan. Jadi bagi laki-laki, tidak hanya paha-paha perempuan yang dapat menimbulkan hawa nafsu, paha-paha laki-laki yang ganteng juga bisa menimbulkan hawa nafsu(dengan kecepatan berbeda tentunya).

Nah, ada tempat-tempat yang menurutku bisa menjadikan kita sebagai seorang homo, gay, lesbian. Salah satunya adalah tempat fitness. Taulah yak. Dan yang lainnya adalah tempat asrama, atau boarding school. Biasanya sekolah kecolongan akan hal ini. mereka hanya memberikan asupan-asupan belajar yang sudah di KTSP kan, namun mereka lupa kalau ada hal lain yang kudu diperhatikan. Yaitu, tentang seks dan seksualitas. Selama saya belajar, jarang banget saya dapet yang satu ini, terutama dari guru-guru. Bahkan saya nyari sendiri pemberlajaran ini.

Di tulisan ini saya berpesan kepada siapapun entah itu guru, atau bapak ibu, bahkan saudara yang bekerja di salah satu sekolah bertipe boarding school, atau saudaranya yang sedang menempuh sekolah boarding. Tanyakan gimana perkembangan seks dan seksualitasnya. Mungkin ini tabu, tapi percayalah ini untuk kebaikan kita. Untuk para guru, cobalah agendakan sebuah seminar di satu hari tentang seks dan seksualitas. Mana aurat yang harus kita jaga, mana yang boleh kita buka. Bahkan setiap satu semester sekali harus kita lakukan agenda ini.

Karena di sekolah asrama, kecenderungan menyukai sesama jenis itu ada kesempatan. Soalnya kita berbagi banyak hal, dari mulai buku, sampai kamar mandi. Berpakaian hanya kolor dan handuk itu suatu yang wajar bahkan. Pegang2 paha ketika belajar bersama itu suatu yang biasa bisa jadi. Nah ini yang harus diwaspadai.

Apalagi di indekos, bukan cuman marak pasangan mesum beda jenis yang berbahaya. Sejenispun sama halnya. Kalau di asrama yang notabene diawasi sama wali asrama bisa kecolongan, apalagi di indekos.

Okeh, kalimat-kalimat di atas adalah alasan-alasan yang menyebabkan mereka bisa menjadi gay. Nah sekarang, gimana solusinya.

Solusi dari masing-masing adalah yang pertama pertebal iman. Yaa sudah di jelaskan bahwa gay adalah penyakit, jadi barangsiapa yang bisa bersabar maka penggugur dosa atau penambah derajat untuknya.

Yang kedua adalah minta konseling ke guru agama. Yang agamanya bener, bukan ke yang libelar, jangan minta pendapat ke ****. Dia beragama hanya memakai otak, bukan pakai hati. mudah-mudahan Allah memberi hidayah padanya. Bukan ke komnas HAM, bukan ke budayawan, atau bukan ke orang yang punya toleransi tinggi. Mereka hanya memperkeruh suasana, bukan membaikan keadaan, kata-katanya menyihir tapi menyesatkan.

Yang ketiga adalah puasa. Sebagaimana, seseorang cowo mencintai cewe namun belum bisa menikahinya, maka harus perbanyak puasa. Untuk meredam hawa nafsu dan jelas, menjadi gay atau menyukai sesama jenis itu nafsu semata.

Yang keempat minta dikerasin. Aa rizal pernah menerangkan kalau kita harus bersikap keras pada mereka, jangan malah dikasih kebebasan dalam grepe-grepe. Keras hal ini seperti, memaksa untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Kayak tiba-tiba merangkul, tiba tiba pegang paha, dan apalah-apalah.

Mereka punya hak untuk sembuh, bukan hak untuk hidup tanpa diskriminatif dengan mengidap kelainan itu. Mereka punya hak untuk dibantu bukan dibiarkan bebas menyebarkan.

Kalian ada sebagai keberagaman di antara kami, maka dari itu kami ada sebagai penyeragaman bagi mu.

Dont Give Up

Kalian Masih Punya Harapan

Dan lagi, ada hak anak cucu kita untuk menjadi normal. Mencintai sesuai fitrahnya.

Dulu saya pernah mengatakan orang homo, maho, lesbi. Dan itu sungguh karena kenaifan saya dan kebodohan saya akan satu hal. Saya mohon maaf.

Terakhir dari yang terakhir, kenapa sih kita bisa menyukai sesama jenis? Dalam ILC kemarin, salah satu penalis menuturkan bahwa laki-laki menyukai sesama laki-laki karena mereka sudah jenuh dengan perempuan. Mereka sudah biasa melihat aurat perempuan, mereka menginginkan lebih, yaitu melihat aurat laki-laki. Nah ini nih salah satu hikmahnya menutup aurat. Kalian itu hei wanita, pakailah kerudung mu sebagai mahkota suci yang akan kita jaga dan sebagai balasannya kita nikmati dengan sebuah perjanjian suci. Jangan kau umbarkan dada dan paha mu untuk hal yang bisa menjerumuskan ke neraka. Na’udzubillah.

Inilah sebagian tulisan saya mengenai LGBT. Saya tidak bermaksud menjudge siapapun, saya tak menjudge seorang LGBT itu hina. Yang hina adalah mereka yang sudah tau ilmu dan hukumnya tapi menolak karena akal dan kecerdasannya lebih dari ilmu dan hukum yang sudah ada.

Terakhir. Kasian atuhlah anak cucu kita.

 

Iklan

QURBAN dan Guyub Rukun Warga (1)

“Assalamualaikum” Salam ku memasuki kantor.

Malam sebelum idul adha aku sempatkan untuk membantu urusan di kantor salah satu lembaga amil zakat. Malam itu urusan mengenai program Hari Raya Idul Adha harus selesai, agar besok pagi semua orang bisa merasakan daging hewan qurban. Entah itu di kota maupun pelosok negeri.

Aku salamin satu persatu orang yang ada, sambil melepas tas dan jaket, aku menawarkan diri “Is there anything can I help?”.

“Ohh iya mas, bentar bentar, hmmmm makan dulu aja mas.” Katanya sambil menawarkan satu kotak nasi ayam. Karena sebelum kesini aku sudah makan, maka aku tolak dengan sehalus-halusnya. “Wah makasih pak, tapi aku sudah makan, buat yang lain aja pak.”

“Yaudah, nanti aja ambilnya. Kalau ini ada martabak mas.” tawarnya lagi.

“Nah kalau ini pantang ditolak pak.” Kata ku sambil makan.

“Mas, besok kamu ke demak yaa, buat penyaluran qurban.”

“hah gimana pak, gimana?” kataku sambil agak bingung dan martabak masih di kerongkongan.

“Ini mas, besok minta tolong, jenengan ke demak, tepatnya di sayung buat dokumentasi penyembelihan di sana.” Jelasnya.

“Hmmm, beneran pak?” kataku masih tak percaya. What? Demak bro, demak. Emang ada apa dengan demak?

“Sendirian pak?” Tanya ku lagi.

“Iya mas, tapi terserah kalau mau bawa temen” Jawabnya.

Andaikata aku sudah punya istri, bisa diajak nih. Tapikan, embun aja masih basah. Dan aku masih kuliah. Belum ada istri. Jadi langsung aku nyari beberapa kontak yang available diajak. Dan temulah satu kontak, mas ical.

Jujur, aku ini orangnya pemalu untuk harus first sight dengan orang baru yang akan diajak kerjasama. Ada rasa yang sesak di dada, dengan pikiran “Apa yang harus aku lakukan.” Disitu aku ga bisa mikir yang ada aku harus berdoa agar besok dimudahkan. Cukup bagiku, namun hati masih sesak, besok mau apa. GUA NGOMONG APA YAAK

Akhirnya pagi itu setelah sholat ied, aku langsung menuju ke rumahnya mas ical. Tak lupa restu, ridho, salim, serta uang bensin dari umi tercinta sebelum pergi. By the way, jemput ke rumah mas ical aku butuh setengah jam sendiri, bukan karena rumahnya jauh, tapi GPS aku yang error ketika mengikuti rute yang diberikan.

“Mas aku sudah di gangnya hajar nih, terus kemana?”

“Lurus aja fif, mentok belok kanan, ada tanjakan, terus kiri, lurus, kiri lagi, ada pos ronda kanan jalan. Ada plang laundry itu rumah ane.” Singkat cerita.

Akhirnya baru jam 8.15 kami menuju demak, sayung. Dan andai kalian tau, tadi malam saya sms ustadz barry kapan penyembelihan hewan qurban dimulai, jawabnya jam 8 pagi!!!. Disitu aku harus mengeluarkan jurus rossi. Ngebut.

Temen – temen, kalau kalian pergi dari rumah, sempatkanlah minta restu kepada orang tua mu, minimal ibu mu. Karena ketika kamu sudah dapat restu orang tua mu, makhluk mana yang akan mengganggu mu? Angin pun tak akan masuk di tubuh mu andaikata restu ibu mu sudah menyelimuti. Benar tidak? Tapi Wallahu’alam jika restu belum ada jika kau pergi tanpa restu ibu mu.

Entah berapa moment mengerikan diperjalanan ketika harus berburu buru datang ke tempat penyembelihan. Dan Alhamdulillah sampai di sayung pukul 09.15 tepat sekali ketika sapi hampir disembelih. Karena sudah dirumbung rasa ndak enak, aku langsung cium tangan ustadz barry meminta mohon maaf atas keterlambatan. Dan subhanallah ustadz barry dengan penuh kewibaannya menyambut kami dengan penuh kekeluargaan. Disitu perasaan ku mulai berubah, sudah mulai nyaman.

Setelah itu dokumentasi kami lakukan beberapa kali. Dari sebelum disembelih, sampai daging di kuliti. Kami diajak ke rumah ustadz barry yang tidak jauh dari tempat pemotongan hewan tadi.

“Pak sekali lagi, saya mohon maaf nggeh pak atas keterlambatan kami.” Kataku.

“Ndak papa mas, ndak papa, insya allah ndak sampai jumatan sudah selesai.” Jawabnya.

Akhirnya kami berbincang-bincang santai di rumah ustadz barry. Dan dari perbincangan itu aku bisa mengambil tema ini untuk aku tulis.

Desa kalisari, sayung demak, RT 05 RW 03, desa yang deket dari kota semarang namun cukup jauh juga dari yang namanya pusat kota. Ketika memasuki kampong ini pun jalan masih berbatu dan berpasir, butuh keseimbangan motor agar tidak jatuh. Alhamdulillah tahun ini RT sini bisa memotong daging sapi setelah 4-5 tahun idul adha tidak ada sapi, hanya ada kambing. Salah satunya adalah melalui DPU Daarut Tauhiid dan para donatur yang telah mempercayakan qurbannya pada DPU DT.

Aku lihat dari beranda rumah ustadz barry ketika warga berduyun duyun membantu pemotongan daging sapi ini. Semuanya ikut nimbrung satu komando dari sang ustadz. Tidak ada tukang jagal dari kampong lain, semunya dikerjakan langsung oleh warga ini. Ustadz barry tugasnya memotong hewan, yang muda bagian peganging hewan dan mengkuliti, ibu ibu bagian yang masak dan bagi bagi daging, sisanya anak anak, jadi penyemangat, dan kami? Jadi penonton.

Idul adha jadi moment terpenting setelah idul fitri untuk menyatukan keluarga dan warga. Kita yang terlalu focus dengan pekerjaan masing-masing, dan melalui hari raya ini kami disatukan.

Tunggu lanjutan ceritanya yaaa…

 

Seorang Pemula dan Duka

Duka masa kecil dan pembelajaran yang baik

Saya mempunyai suatu cedera kambuham yang terjadi di masa lalu, tepatnya masa masa SD, yaitu cedera patah tulang atau bahasa jawanya keceklek. Cedera itu identik dengan diriku dalam keluarga ini. Ibuku selalu heran kenapa aku yang paling mengalami masalah ini. Dan boleh jadi saya pernah mengalami cedera 2 kali dalam setahun. Dan itu membuatku menangis.

Continue reading “Seorang Pemula dan Duka”

Hokaido dan Impian Masa Kecil

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Assholatuwassalam a’la rosulillah. Amaa ba’du.

Sebuah tempat di Jepang Utara. Tepatnya di kawasan bernama Hokkaido. Ada sebuah stasiun tua yang sudah ditinggal oleh penumpangnya sekitar tahun 2012. Pemilik kereta ini berniat untuk menutup dan tidak mengoperasikannya lagi. Tapi niat itu diurungkan. Karena, ternyata masih ada satu penumpang yang harus menggunakan kereta itu. Dan kalian tau siapakah penumpang itu? Dialah seorang gadis yang akan pergi ke sekolah. Akhirnya pemilik kereta itu tetap mengoperasikan armadanya sampai anak ini lulus sekolah. Kira kira 2015 kemarin kereta ini resmi tutup bertepatan dengna lulusnya sang anak. Continue reading “Hokaido dan Impian Masa Kecil”

Wahyu Nugroho II

Tak terkira rasanya apabila judul ini ada kelanjutanya. Aku kira tulisan ku tentang wahjo yang terdahulu, cukup mewakili kehidupan kita di asrama. Tapi, nyatanya tidak. Aku teringat dengan sebuah novel karya andrea hirata, Maryamah Karpov. Novel ke 4 dari series Laskar Pelangi. Novel yang menurutku bagian inti dari 3 series Laskar Pelangi. Di novel itu, penulis mendiskripsikan seorang dukun yang aku lupa namanya, per bab bab, tapi tidak dalam satuan utuh.

Kalian mudeng ndak?

Oh memang, memang sengaja saya bikin bingung. Biar kalian baca novelnya juga. Endorse gaes, endorse.

Eh btw, aku mengucapkan…

TAQABBALLAHU MINNA WA MINKUM
MINAL AIDIN WAL FAIZIN WAL MAQBULIN
KULLU AAMIN WA ANTUM BIKHAIR

Dari hati aku yang paling terdalam mengucapkan. *Syaah.

Sebelumnya, jika kalian belum pernah baca Wahyu Nugroho part I silahkan mampir dulu aja di link ini.

Continue reading “Wahyu Nugroho II”

NKRI Harga Mati

NKRI Harga Mati

Dan saya bener bener bersyukur dilahirkan disini. Di Indonesia. Pernah beberapa pertanyaan menghujam benak ku mengapa aku dilahirkan disini. Duduk termenung, membayangkan ‘seandainya’, ‘seandainya’. Bergumamku berhenti ketika melihat setangkai daun jatuh dari akasia. Yaa, aku orang Indonesia. Ini Negara yang melindungiku dari serangan luar sana dan ini Negara yang aku lindungi semampuku, ketika nanti akan ada yang merebutnya.

IMG-20161002-WA0017

foto diambil ketika acara UTAMA : Ketika Aku Ingin Memiliki

Kaki ku berlanjut menerobos rumput ilalang, dihamparan luas sabana, diriku menerpa. Kembali ku hirup udara segar gratis Tuhan ku. Dan kini aku mulai mengerti sedikit, bahwa aku berada di sini, di Indonesia bukan hanya karena hadiah semata. Namun, penuh dengan perjuangan, air mata, dan darah serta rahmat Tuhan ku. Sudah ratusan bahkan ribuan orang mati untuk memerdekan negeri ini. Terkubur sayu meninggalkan istri yang menjanda dan anak yang menjadi yatim. Kini ku bisa menikmati dengan sekenaku. Continue reading “NKRI Harga Mati”